Beranda>Berita Terbaru
Menyalakan Harapan Inklusif di Hari Kebangkitan Nasional: Langkah Awal Kolaborasi Pendidikan Keagamaan di SLBN Kutai Timur
[INFORASI PUBLIK]
Beranda>Berita Terbaru
Menyalakan Harapan Inklusif di Hari Kebangkitan Nasional: Langkah Awal Kolaborasi Pendidikan Keagamaan di SLBN Kutai Timur
[INFORASI PUBLIK]
KUTIM HUMAS - Nuansa Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026, terasa berbeda di lingkungan SLBN Kutai Timur. Pada momentum yang sarat makna tentang kebangkitan semangat persatuan dan pendidikan bangsa itu, hadir kunjungan dari Pengawas Sekolah Ahli Madya dan Penyuluh Ahli Pertama Kementerian Agama Kutai Timur pada penyelenggara Katolik sebagai pembuka langkah besar kerja sama pendidikan keagamaan lintas sektoral di dunia Pendidikan Luar Biasa (PLB). Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Kepala SLBN Kutai Timur, Anissa Alhaqqoh Darwis beserta jajaran kurikulum dan guru kelas yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendampingi murid berkebutuhan khusus.
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda formal pemetaan strategi pembelajaran pendidikan keagamaan pada jenjang SLB SD, SLB SMP, hingga SLB SMA. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi dan awal kolaborasi berkelanjutan dalam membangun pendidikan yang adil, setara, dan manusiawi. Dengan jumlah 139 murid, 35 guru dan tenaga kependidikan, serta 20 rombongan belajar, SLBN Kutai Timur menghadirkan realitas pendidikan inklusif yang membutuhkan perhatian lintas bidang. Mayoritas murid dengan kebutuhan khusus autisme yang tersebar dalam 9 rombel menjadi tantangan sekaligus panggilan pelayanan pendidikan yang memerlukan pendekatan pembelajaran penuh empati, kesabaran, dan inovasi.
Dalam semangat Hari Kebangkitan Nasional, kunjungan ini menjadi simbol kebangkitan kesadaran bersama bahwa pendidikan bukan hanya milik mereka yang berada dalam kondisi ideal, melainkan hak seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Karena itu, Pengawas dan Penyuluh dari naungan Bimas Islam, Penyelenggara Kristen, dan Katolik didorong untuk bersama-sama menyiapkan modul pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Agama Kristen (PAK), dan Pendidikan Agama Katolik (PAKat) yang lebih adaptif bagi murid berkebutuhan khusus. Kehadiran negara melalui pendampingan pendidikan keagamaan di SLB menjadi bentuk nyata bahwa nilai toleransi, kasih, dan keberpihakan sosial harus diwujudkan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Pertemuan ini pun membuka ruang agenda lanjutan yang lebih strategis, khususnya dalam mendukung kesehatan mental guru dan penguatan kapasitas tenaga pendidik di SLBN Kutai Timur. Dalam kegiatan Hari Belajar Guru (HBG) mendatang, direncanakan penguatan materi terkait NLP (Neuro-Linguistic Programming), CBT (Cognitive Behavioral Therapy), dan GPE (Genetic Potential Education) sebagai bagian dari pengembangan pendekatan pembelajaran yang lebih holistik. Dari ruang sederhana di SLBN Kutai Timur pada Hari Kebangkitan Nasional itu, lahir harapan baru bahwa kolaborasi lintas sektoral dapat menjadi jalan membangun ekosistem pendidikan inklusif Indonesia yang semakin kuat, berkeadilan, dan berpihak pada seluruh murid tanpa terkecuali.(ra)