Beranda>Berita Terbaru
Menguatkan Moderasi Beragama Melalui Bina Mental Karakter di SMA YPPSB Sangatta
[INFORMASI PUBLIK]
Beranda>Berita Terbaru
Menguatkan Moderasi Beragama Melalui Bina Mental Karakter di SMA YPPSB Sangatta
[INFORMASI PUBLIK]
KUTIM (HUMAS) - Pada tanggal 2 Februari 2026, tim Kementerian Agama Kabupaten Kutai Timur yang terdiri dari Pengawas Ahli Madya, Penyuluh Bimas Islam, Penyuluh Bimas Kristen, dan Penyuluh Bimas Katolik melaksanakan kunjungan ke SMA YPPSB Sangatta. Kegiatan ini pada awalnya dijadwalkan sebagai bagian dari agenda kepengawasan terkait Bina Mental dan Karakter Peserta Didik Kelas PABP Kristen X–XII, dengan fokus penguatan nilai Moderasi Beragama. Setelah mengikuti apel pagi, para penyuluh berkesempatan ikut serta bersilaturahmi dengan keluarga besar SMA YPPSB Sangatta dan tim disambut hangat oleh Kepala Sekolah Marsono, M.Pd, bersama para guru PABP Kristen, Katolik, Islam, serta guru BCT.
SMA YPPSB Sangatta memiliki kekhasan kuat dalam penguatan moderasi beragama melalui pembiasaan kerohanian dan karakter yang dikenal dengan BCT (Bina Cinta Tuhan). Program ini telah dilaksanakan secara konsisten sejak tahun 2020, bahkan dimulai pada masa pandemi Covid-19, dan terus berlanjut hingga saat ini di bawah naungan Yayasan Prima (PT KPC). BCT menjadi ruang pembentukan karakter lintas iman yang menumbuhkan sikap saling menghargai, kedewasaan spiritual, serta harmoni dalam keberagaman. Budaya sekolah ini turut menopang berbagai prestasi, termasuk capaian membanggakan sebagai Juara I Fiksi Nasional, yang mencerminkan keseimbangan antara kecerdasan akademik, kreativitas, dan karakter.
Berdasarkan hasil pemetaan Bina Mental Karakter Moderasi Beragama di kelas PABP Kristen, mayoritas peserta didik berada pada kategori baik hingga sangat baik dalam pemahaman moderasi beragama. Namun demikian, masih ditemukan area yang perlu penguatan, khususnya dalam regulasi emosi dan komunikasi saat menghadapi konflik. Secara jenjang, peserta didik kelas X membutuhkan penguatan konsep dan keteladanan konkret, sementara kelas XI–XII menunjukkan kedewasaan reflektif yang lebih matang dalam pengambilan keputusan etis. Moderasi beragama dipahami bukan sekadar sikap sosial, melainkan sebagai panggilan iman Kristen untuk menghadirkan damai, sejalan dengan nilai kasih, hikmat, dan martabat manusia.
Sebagai Rekomendasi Tindak Lanjut (RTL) pada kepengawasan, hasil pemetaan ini akan diteruskan dan diintegrasikan oleh para penyuluh Kementerian Agama Kutai Timur dalam berbagai program lanjutan ke depannya, seperti Pesantren Ramadhan, penguatan BCT dalam pembelajaran PAK, serta program Katoliksitas di PAKAt. Pada kepengawasan, RTL dirancang berbasis data dan nilai Kristiani (kelas PABP Kristen) melalui kegiatan studi kasus konflik nyata di sekolah dan media sosial, role play dialog lintas perbedaan, refleksi iman, latihan empati, serta diferensiasi program sesuai jenjang. Dengan demikian, moderasi beragama tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi pembiasaan hidup beriman yang menjiwai budaya sekolah dan membentuk peserta didik sebagai pembawa damai di tengah masyarakat majemuk.(Ra)