Beranda>Berita Terbaru
Dari Layar Kembali kepada Firman: Pendampingan Pendidikan Karakter bagi Generasi Digital di SMKN 1 Sangatta Utara
[INFORASI PUBLIK]
Beranda>Berita Terbaru
[INFORASI PUBLIK]
Dokumentasi Kegiatan Pendampingan Karakter bagu Generasi Digital Di SMKN 1 Sangatta Utara
KUTIM HUMAS - Semangat dan antusiasme peserta didik SMKN 1 Sangatta Utara mewarnai kegiatan Pendampingan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang dilaksanakan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi RHK 2 Kegiatan Kepengawasan yang dilaksanakan oleh Pengawas Ahli Madya Kementerian Agama Kabupaten Kutai Timur, Rustina Mega Noveny, S.Th., M.Pd., secara tandem bersama Penyuluh Agama Ahli Pertama pada Penyelenggara Kristen, Rotua Sialagan, S.Th. Mengangkat pesan “From Screen to Scripture: Kembali kepada Firman”, pendampingan diarahkan pada pergumulan nyata generasi Z yang kehidupannya semakin dekat dengan layar, media sosial, kecerdasan buatan (AI), influencer, algoritma, dan budaya visual.
Dalam pemaparannya, Rustina Mega Noveny mengajak peserta didik memahami bahwa layar bukanlah dosa dan teknologi bukanlah musuh iman. Namun, ketika layar, algoritma, popularitas, influencer, maupun AI mulai menentukan apa yang dianggap benar, penting, dan layak diikuti, seseorang dapat perlahan kehilangan arah dan membiarkan teknologi mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah dan Firman-Nya. Berangkat dari Keluaran 20:4–6, Yesaya 40:18,25, Habakuk 2:18, dan 2 Petrus 1:19, peserta didik diajak menyadari bahaya menciptakan “Tuhan” versi diri sendiri, mengikuti manusia lebih daripada Tuhan, menganggap sesuatu benar hanya karena viral, serta membiarkan algoritma membentuk pola pikir dan hati. Sebaliknya, iman yang berakar teguh dibangun dengan kembali mendengar Firman, mengakui bahwa Allah itu esa dan kudus, menguji setiap informasi, serta menggunakan teknologi sebagai sarana untuk belajar, melayani, berkarya, dan memuliakan Allah.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan dalam langkah-langkah praktis yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka diajak mengatur waktu layar, mengutamakan Firman, menguji dan memilah informasi, membangun komunitas yang sehat, menggunakan teknologi untuk kemuliaan Allah, serta menjaga hati. Ajakan ini mendapat respons positif dari para peserta didik yang merupakan bagian dari generasi Z. Mereka tampak antusias mengikuti pemaparan, merespons pertanyaan dan refleksi, serta menunjukkan ketertarikan ketika pembahasan dikaitkan langsung dengan pengalaman mereka sehari-hari di ruang digital. Melalui pendekatan tersebut, pendidikan karakter dalam pembelajaran PAK tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi mendorong peserta didik untuk membangun kemampuan memilih, menyaring, dan menggunakan teknologi secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai iman Kristen.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Altar Call yang dipimpin oleh Penyuluh Agama Ahli Pertama, Rotua Sialagan, S.Th. Momen ini menjadi ruang refleksi bagi peserta didik untuk mengambil keputusan pribadi dalam menempatkan Allah dan Firman-Nya sebagai dasar kehidupan di tengah derasnya pengaruh dunia digital. Peserta didik diajak untuk tidak sekadar menjadi generasi yang dibentuk oleh layar, tetapi menjadi generasi yang dibentuk oleh Firman, generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak olehnya, mengikuti kebenaran tanpa sekadar mengikuti tren, serta menghadirkan iman dalam kehidupan nyata.
Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian penting dari upaya kepengawasan dalam memperkuat pendidikan karakter melalui PAK, sekaligus meneguhkan pesan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, Firman Tuhan tetap menjadi dasar untuk berpikir, memilih, bertindak, dan menjalani kehidupan. (Ra)